Senin, 08 April 2013

Museum Pancasila Sakti


Museum Pancasila Sakti

Museum Pancasila Sakti termasuk salah satu museum yang cukup tua usianya. Letaknya di jalan Pondok Gede Raya daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur. Mueum Pancasila Sakti memamerkan perihal kejadian kejadian sekitar keganasan G 30 S PKI. Diantaranya libang tempat penimbungan tujuh pahlawan Revolusi dan rumah tempat penyiksaan para pahlawan itu. Museum Pancasila Sakti terletak tidak jauh dari Taman Mini. Untuk memudahkan pengunjung, banyak kendaraan kecil yang melewati rute tersebut.

Sejarah Museum Pancasila Sakti Lubang Buaya
Dahulu Museum Pancasila Sakti merupakan daerah kawasan penduduk yang terletak di daerah Lubang Buaya. Yang dulunya terdapat empat belas rumah penduduk sekitar dengan lingkungan yang masih sepi. Disalah satu rumah penduduk dan tempat belajar sekolah rakyat (sekarang SD) tersebut yang dijadikan saksi mata tempat penganiyaan dan penyiksaan ke tujuh Jendral yang dilakukan oleh PKI. Jendral atau perwira itu terdiri dari Letjen. TNI A. Yani, Mayjen. TNI Suprapto, Meyjen TNI M.T. Harjono, Mayjen TNI S. Parman, Brigjen TNI D.I Panjaitan, Brigjen TNI Soetodjo Siswomiharjo dan Lettu Pierre Andries Tendean. Salah satu penduduk itu sengaja dipinjam oleh PKI untuk melakukan aksinya dalam penganiyaan para jendral itu dan sumur tua depan rumah tersebut dijadikan tempat penimbunan jenazah ke tujuh jendral besar tersebut. Diketahuinya aksi PKI tersebut oleh seorang polisi yang sedang berkeliling untuk patroli di daerah Lubang Buaya itu, aksi PKI itu diketahuinya dengan melihat sendiri kejadian tersebut. Namun polisi tersebut takut jika ia menolong ke tujuh jendral itu maka ia hanya menyaksikan saja dan tidak berani menolong disebabkan ia takut dibunuh juga oleh PKI tesebut. Dengan kesaksian polisi tersebut maka diketahuinya bahwa di sumur tua itu terdapat jenazah ketujuh jendral besar tersebut dan fakta-fakta lainya diketahui dari istri-istri dari para jendral besar tersebut.
Pada sore hari pada tanggal 3 Oktober 1965 diperoleh petunjuk dari anggota POLRI yang pernah ditawan oleh gerombolan G 30 S/PKI. Ia memberi tahu bahwa perwira-perwira tesebut sudah dibunuh dan jenazahnya dikubur disekita tempat pelatihan musuh. Ternyata jenazah dimasukkan ke dalam sumur tua, lalu ditimbun dengan sampah kering, daun-daun singkong secara berselang seling. Pengangkatan jenazah jendral tersebut dilaksanakn pada tanggal 4 Oktober 1965 oleh anggota-anggota kesatuan intai para Amfibi (KIPAM) dari marinir (KKO-TNI-AL) dan anggota RPKAD. Dalam pengangkatan jenazah itu, jenazah sudah dalam keadaan rusak dan membusuk. Pengangkatan jenazah tersebut disaksikan olehMayor Jendral TNI Soeharto.

Koleksi Museum Pancasila Sakti
Di Museum Pancasila Sakti terdapat sumur tua tempat penimbunan mayat ketujuh jendral besar dan rumah tempat penyiksaan para jendral besar yang dibunuh dan dianiaya oleh PKI. Serta di Museum Penghianatan PKI ini terdapat banyak replika tentang perjuangan dan penganiayaan yang dilakukan PKI terhadap tujuh jendral besar tersebut. Juga terdapat barang-barang peninggalan dari ketujuh jendral barang barang tersebut berupa baju dinas para jendral, baju yang dikenakan jendral saat dianiaya dan dibunuh, perlengkapan senjata para jendral, mobil dinas dan foto-foto para jendral besar.
Koleksi yang ada di Museum Penghianatan PKI antar lain :
1.      Di ruang intro, terdapat tiga mozaik foto yang masing-masing yang menggambarkan kekejaman PKI terhadap bangsa sendiri dalam pemberontakan Madiun, Penggalian jenazah korban keganasan PKI dalam G 30 S/PKI 1965. Pengadilan gembong-gembong G 30 S/PKI oleh Mahkamah Militer Luar Biasa.
2.      Terdapat diorama-diorama yang menceritakan tentang pemerontakan PKI Madiun( 9 Maret 1946), Pemogokan Buruh Sarbupri di Dilenggu (23 Juni 1948), pemberontakan PKI Madiun (18 Sepetember 1948), pembunuhan di Kawedanan Ngawen/Blora (20 September 1948), Pembebasan Gorang Gareng (28 september 1948), pembantaian di Dungus ( 1 Oktober 1948) Muso tertembak mati (31 Oktober 1948), pembunuhan massal di Tirtomoyo (14 Oktober 1948), PENANGKAPAN Amir Syarifudin (29 November 1948), serangan Gerombolan PKI di Markas PKI di Tanjung Priuk (6 Agustus 1951), Peristiwa Tanjung Merowa (16 Maret 1953), lahirnya MKTBP PKI (14 Maret 1954). D.N. Aidit di Adili (25 Februari 1955), Kampanye Budaya PKI (25 Maret 1963), Rongrongan PKI terhadap ABRI (1964-1965), Peristiwa Kanigoro (13 Januari 1965)
Pake kode disamping emoticon kalu Agan mau komeng dengan emot dibawah ini..
:a: :b: : : :e: : :g: :h: :i:
:j: : :l: :m: :n: : : :q: :
: : :u: : :w: : : : " :ab:
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar